KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah pembelajaran akidah akhlak ini, yang alhamdullilah tepat pada waktunya makalah kami ini berjudul “Pengembangan Metode Pembelajaran Akidah Akhlak”. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna, Oleh karena itu kritik dan saran dari Ibu Dosen yang
bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan banyak terima kasih kepada Ibu Pembimbing.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.
Akhir kata, saya sampaikan banyak terima kasih kepada Ibu Pembimbing.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan suatu
materi pelajaran, tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai
materi yang akan disampaikan. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang harus
dikuasainya sehingga ia mampu menyampaikan materi secara profesional dan
efektif. Menurut Zakiyah Daradjat ..pada dasarnya ada tiga kompetensi yang
harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan
atas bahan, dan kompetensi dalam cara-cara mengajar.
Ketiga kompetensi tersebut harus berkembang secara
selaras dan tumbuh terbina dalam kepribadian guru.Sehingga diharapkan dengan
memiliki tiga kompetensi dasar tersebut seorang guru dapat mengerahkan segala
kemampuan dan keterampilannya dalam mengajar secara profesional dan efektif.
Mengenai kompetensi dalam cara-cara mengajar, seorang
guru dituntut untuk mampu merecanakan atau mampu menyususun setiap program
satuan pelajaran, mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mampu
memilih metode yang bervariatif dan efektif.
Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran
yang efektif dalam suatu pembelajaran akan dapat menghasilkan pembelajaran yang
efektif yaitu tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sebaliknya
ketidak tepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam
suatu pembelajaran, maka akan dapat menimbulkan kegagalan dalam mencapai
pembelajaran yang efektif yaitu tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengembangan Metode Pembelajaran Akidah Akhlak
A. Pengertian Metode
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang
digunakan untuk menglimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik.Pendidik
adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat
mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta
mendewasakan anak didiknya.Salah satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah
dengan mengajar di kelas.Salah satu yang paling penting adalah performance guru
di kelas.Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta
suasana belajar yang menyenangkan.Dengan demikian guru harus menerapkan metode
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.
B. Pengertian Pelajaran Akidah Akhlak
Pelajaran aqidah akhlak merupakan salah satu mata
pelajaran yang diajarkan disekolah formal dan merupakan rumpun mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI).Secara etimologi (bahasa) kata aqidah akhlak,
terdiri dari dua kata aqidah dan akhlak Kata aqidah berasal dari bahasa
Arab yang berarti kepercayaan atau keyakinan.
Sedangkan secara terminologi (istilah) aqidah berarti
segala keyakinan yang ditetapkan oleh Islam yang disertai oleh dalil-dalil yang
pasti. Hal-hal yang termasuk di dalam pembahasan aqidah yaitu tentang Tuhan
dan segala sifat-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta, seperti
terjadinya alam.
Adapun pengertian akhlak secara etimologi adalah berasal
dari bahasa Arab, yaitu bentuk jamak dari kata yang berasal dari kata dengan
bentuk jamaknya yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabiat.Ibnu Athir menjelaskan bahwa hakekat makna itu ialah gambaran batin
manusia yang tepat (jiwa dan sifatnya) sedangkan merupakan gambaran bentuk
luasnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh dan lain sebagainya).
Secara terminologi ada beberapa definisi akhlak yang
telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:
a. Imam Ghozali
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
b. Ibnu
Miskawaih
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk
melakukan perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan.
c. Abu Bakar Aceh
Akhlak adalah suatu sikap yang digerakan oleh jiwa yang menimbulkan
tindakan dan perbuatan manusia baik terhadap Tuhan maupun sesama manusia serta
terhadap diri sendiri.24 Melihat pengertian aqidah akhlak
yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelajaran aqidah
akhlak merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal dan
merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang didalamnya
mencakup persoalan keimanan dan budi pekerti yang dapat mengembangkan
kepribadian peserta didik.
C. Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlak
Aqidah akhlak merupakan salah satu bidang studi dalam
pendidikan agama Islam.Maka tujuan umum pendidikan aqidah akhlak sesuai dengan
tujuan umum pendidikan agama Islam. Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, tujuan
umum pendidikan agama Islam adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah
atau sekurang-kurangnya mempersiapkan peserta didik ke jalan yang mengacu pada
tujuan akhir manusia. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah
dan tunduk patuh secara total kepadaNya. Hal ini
sesuai dengan firman Allah, yang Artinya : .Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supayamereka mengabdi kepada-Ku.. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56).
Sedangkan tujuan khusus pelajaran aqidah akhlak menurut
Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam adalah sebagai berikut:
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta
didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan
pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang
aqidah dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang
dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaanya kepada Allah swt seta
berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara,
serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa tujuan
pelajaran aqidah akhlak searah dengan tujuan nasional yaitu: .Tujuan pendidikan
nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab,
mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
D. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak
Ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak yang terdapat di
madrasah aliyah memiliki isi bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada
pencapaian kemampuan peserta didik untuk dapat memahami rukun iman secara
ilmiah serta pengalaman dan pembiasaan berakhlak Islami, untuk dapat dijadikan
landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang
berikutnya.
Adapun ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak di dalam
kurikulum 2004 untuk madrasah aliyah ada tiga aspek, yaitu:
a. Aspek Aqidah
Aspek aqidah ini meliputi sub-sub aspek: kebenaran
aqidah Islam, hubungan aqidah, akhlak, ke-Esaan Allah swt, Allah Maha Pemberi
Rizki, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pengampun dan Penyantun, Maha Benar
dan Maha Adil. Dari beberapa sub aqidah ini tentu saja dengan menggunakan
argumen dalil-dalil aqli dan naqli. Selain itu juga meyakini bahwa, Muhammad
saw adalah rosul terakhir, meyakini kebenaran Al-Qur.an dengan dalil aqli dan
naqli. Meyakini qodlo dan qodar, hubungan usaha dan do.a, hubungan prilaku
manusia dengan terjadinya bencana alam.
b. Aspek
Akhlak
Adapun yang menjadi aspek akhlak diantaranya: .Beradab
secara Islam dalam bemusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlak terpuji
kepada orang tua, guru, ulil amri, dan waliyullah.Hal ini memiliki tujuan untuk
memperkokoh integrasi dan kredibilitas pribadi, memperkokoh kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama rosul
dalam membawa perdamaian, terbiasa menghindari akhlak tercela yang dapat
merusak tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara seperti membunuh,
merampok, mencuri, menyebar fitnah, membuat kekerasan, mengkonsumsi atau
mengedarkan narkoba dan malas bekerja.
c. Aspek Kisah
Keteladanan
Aspek kisah keteladanan diantaranya mengapresiasi dan
meneladani sifat dan prilaku sahabat utama Rosulullah saw dengan landasan agama
yang kuat. Ketiga aspek diatas merupakan bagian dari ajaran-ajaran dasar
yang terdapat dalam Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur.an dan Al-Hadits.
Oleh karena itu diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi beriman dan
bertaqwa kepada Allah swt dan memiliki akhlak yang mulia sebagaimana akhlak
para nabi dan rosul.
E. Macam-Macam Metode yang Sesuai dalam Pembelajran Akidah Akhlak
1. Metode Ceramah
a. Pengertian Metode Ceramah
Yang dimaksud metode ceramah adalah cara menyampaikan
sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak
ramai. Adapun menurut M. Basyiruddin Usman yang dimaksud dengan metode ceramah
adalah teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim disampaikan oleh
para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan
secara lisan oleh guru bilamana diperlukan. Pengertian senada juga diungkapkan
oleh Mahfuz Sholahuddin bahwa metode ceramah adalah suatucara penyampaian bahan
pelajaran secara lisan oleh guru di depan kelas atau kelompok.Sedangkan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia disebutkan yang dimaksud dengan metode ceramah
adalah cara belajar mengajar yangmenekankan pada pemberitahuan satu arah dari
pengajar kepada pelajar (pengajaraktif, pelajar pasif).
Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan
bahwa yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara penyampaian bahan
pelajaran kepadasiswa secara lisan. Adapun gambaran penggunaan metode ini
dikemukakan Zakiyah Daradjat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama
Islam bahwa dalam metode ceramah ini murid duduk, melihat dan mendengarkan
serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip
iktisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada
penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan.
Sejak zaman Rasulullah metode ceramah merupakan cara
yang paling awal yang dilakukan Rasulullah saw dalam penyampaian wahyu kepada
umat. Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru
tampak lebihdominan. Sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang
disampaikan oleh guru. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw bersabda: Yang
Artinya: .Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat..
Menurut M. Basyiruddin Usman, metode ceramah
layak digunakan guru dimuka kelas apabila:
·
Pesan yang akan disampaikan berupa fakta atau
informasi;
·
Jumlah siswanya terlalu banyak;
·
Guru adalah seorang pembicara yang baik, berwibawa dan
dapat merangsang siswa.
b. Kelebihan Metode Ceramah
·
Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid
melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus
secara komfrehensif.
·
Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang
lama, dengan waktu yang singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara
bersamaan.
·
Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat, karena dalam
waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.
·
Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya
dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan
cepat dan tepat.
·
Dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa
dalam belajar.
·
Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan, jika bahan
banyak sedangkan waktu terbatas maka dapat dibicarakan pokok-pokok
permasalahannya saja, sedangkan bila waktu masih panjang, dapat dijelaskan
lebih mendetail.
c. Kelemahan Metode Ceramah
·
Interaksi cenderung bersifat centered (berpusat pada
guru).
·
Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana
siswa telah menguasai bahan ceramah.
·
Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang
berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru.
·
Siswa kurang menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru,
jika ceramah berisi istilah-istilah yang kurang/tidak dimengerti oleh siswa dan
akhirnya mengarah kepada verbalisme.
·
Tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memecahkan masalah.Karena siswa hanya diarahkan untuk mengikuti fikiran guru.
·
Kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kecakapan dan kesempatan mengeluarkan pendapat.
·
Guru lebih aktif sedangkan murid bersikap pasif.
·
Bila guru menyampaikan bahan sebanyak-banyaknya dalam
waktu yang terbatas, menimbulkan kesan pemompaan atau pemaksaan terhadap
kempuan penerimaan siswa.
·
Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang,
kerena guru kurang memperhatikan faktor-faktor psikologis siswa, sehingga bahan
yang dijelaskan menjadi kabur.10
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut seorang
guru harus mengusahakan hal-hal sebagai berikut:
a) Untuk
menghilangkan kesalahpahaman siswa terhadap materi yang diberikan, hendaknya
diberi penjelasan beserta keterangan-keterangan, gerak-gerik, dan contoh yang
memadai dan bila perlu hendaknya menggunakan media yang refresentatif.
b) Selingilah
metode ceramah dengan metode lainnya untuk menghilangkan kebosanan peserta
didik.
c) Susunlah ceramah
secara sistematis.
d) Mengulang
kata atau istilah-istilah yang digunakan secara jelas, dapat membantu siswa
yang kurang atau lambat kemampuan dan daya tangkapnya.
e) Carilah
umpan balik sebanyak mungkin sewaktu ceramah berlangsung.
2. Metode Diskusi
a. Pengertian Metode Diskusi
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan
bahwa yang dimaksud dengan metode diskusi adalah .Cara belajar atau mengajar
yang melakukan tukar pikiran antara murid dengan guru, murid dengan murid
sebagai peserta diskusi.Namun tidak semua kegiatan bertukar pikiran dapat
dikatakan berdiskusi.Menurut Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. diskusi pada
dasarnyaadalah .Suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam
kelompok kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian,
kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah.Sedangkan menurut
Zuhairini yang diaksud metode diskusi ialah suatu metode didalam mempelajaribahan
atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya, sehinggaberakibat
menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid.
Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan
bahwa yang dimaksud dengan metode diskusi ialah suatu cara penyampaian materi
pelajaran dengan jalan bertukarpikiran atau mendiskusikannya, baik antara guru
dengan siswa ataupun sesama siswa.
Seiring dengan itu, metode diskusi berfungsi untuk
merangsang murid berpikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai
persoalan-persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu
jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan/ilmu pengetahuan yang
mampu mencari jalan terbaik (alternatif terbaik).
Dari beberapa jawaban atau jalan keluar yang ada bagaimana
mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk mendekati kebenaran sesuai dengan
ilmu yang ada pada kita. Jadi, metode diskusi tidak hanya percakapan atau
debat, melainkan carauntuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dihadapi.
b. Kelebihan Metode Diskusi
1) Menurut
Armai Arief, di dalam bukunya Pengatar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ciputat Pers, 2002), disebutkan bahwa diantara keunggulan metode
diskusi adalah antara lain:
2) Suasana
kelas lebih hidup, sebab siswa mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada
masalah yang sedang didiskusikan.
3) Dapat
menaikan prestasi kepribadian individu, seperti: sikap toleransi, demokrasi,
berpikir kritis, sistematis, sabar dan sebagainya.
4) Kesimpulan
hasil diskusi mudah dipahami siswa, karena mereka mengikuti proses berpikir
sebelum sampai kepada suatu kesimpulan.
5) Siswa
dilatih belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib layaknya
dalam suatu musyawarah.
6) Membantu
murid untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
7) Tidak
terjebak kedalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh prasangka dan
sempit. Dengan diskusi seseorang dapat mempertimbangkan
alasan-alasan/pikiran-pikiran orang lain.
c. Kelemahan Metode Diskusi
Menurut Roetiyah N.K., di dalam bukunya Strategi
Belajar Mengajar disebutkan bahwa kekuarangan penggunaan metode diskusi
antara lain:
·
Kadang-kadang bisa terjadi adanya pandangan dari
berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi
menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
·
Dalam diskusi menghendaki pembuktian logis, yang tidak
terlepas dari faktafakta; dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau
coba-coba saja.
·
Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
·
Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih
formal.
Kelemahan lain dalam metode diskusi adalah kadang-kadang
ada siswa yang memonopoli pembicaraan, dan ada pula siswa yang pasif dan tidak
acuh. Dalam hal demikian guru hendaknya memperhatikan dan memberi motivasi
kepada siswa supaya seluruh siswa ikut serta dalam diskusi. Untuk mengatasi
kelemahan atau segi negatif dari metode ini, maka perlu memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
·
Pimpinan diskusi diberikan kepada murid dan diatur
secara bergiliran.
·
Pimpinan diskusi yang diberikan kepada murid, perlu
bimbingan dari guru.
·
Guru mengusahakan supaya seluruh siswa ikut
berpartisipasi dalam diskusi.
·
Mengusahakan supaya semua siswa mendapat giliran
berbicara, sementara siswa lain belajar mendengarkan pendapat temannya.
·
Mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan.
3. Metode Pemberian Tugas
a. Pengertian Metode Pemberian Tugas
Metode Pemberian
Tugas merupakan suatu cara interaksi belajar mengajar dengan cara memberikan
tugas-tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan secara berkelompok atau
secara perorangan. Dengan pemberian tugas ini
diharapkan anak dapat mengetahui secara lebih pasti mengenai masalah atau soal
yang akan dijawabnya. Metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran Akidah
Akhlak seperti mengenai kisah-kisah para Nabi.
b. Kelebihan Metode Pemberian Tugas :
·
Melatih
perserta didik aktif dalam kegiatan belajar.Diharapakan
bukan hanya guru saja yang aktif siswa juga dapat mencari tahu tentang bahan
pelajaran.
·
Meningkatkan
kegiatan belajar peserta didik.
·
Mengembangkan kemandirian
peserta didik.
·
Membina
kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan
komunikasi.
·
Membina rasa tanggung jawab dan disiplin peserta didik.
·
Mengembangkan
kreatifitas peserta didik.
c. Kekurangan Metode Pemberian
Tugas :
·
Sulit
mengontrol apakah peserta didik belajar sendiri atau dikerjakan orang lain.
·
Sulit
memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik.
·
Tugas yang
diberikan bersifat monoton sehingga bisa membosankan peserta didik.
·
Tugas yang
diberikan sering dalam jumlah yang banyak sehingga membuat peserta didik merasa
terbebani dan cenderung mengeluh.
·
Tugas-tugas
kelompok hanya dikerjakan oleh murid yang pintar.
4. Metode Tanya Jawab
a. Pengertian Metode Tanya Jawab
Metode Tanya
Jawab adalah metode penyajian pelajaran melalui interaksi dua arah yaitu dari
guru ke pesrta didik atau sebaliknya dari peserta didik ke guru.Metode Tanya
jawab ini bertujuan memperoleh kepastian jawaban materi pelajaran melalui
jawaban lisan.Siswa dan guru sama-sama belajar terlebih
dahulu untuk menerima jawaban dan pertanyaan.Siswa diharapkan belajar terlebih
dahulu sehingga diharapkan dapat menjawab soal yang diberikan. Di dalam
pembelajaran akidah akhlak metode ini termasuk efektif, agar siswa aktif dan
berperan serta di dalam proses belajar mengajar. Misalnya dalam pelajaran
mengenai Kalimat Tauhid, Bagaiman menerapakan kalimat tauhid itu dalam
kehidupan sehari-hari?.dsb.
b. Kelebihan Metode Tanya Jawab :
·
Menarik dan
dapat memusatkan perhatian peserta didik terhadap materi pelajaran.
·
Mengetahui
aktivitas peserta didik dari Tanya jawab maupun jawaban serta tanggapan yang
dilontarkannya.
·
Lebih
merangsang pendayagunaan daya fikir dan daya nalar peserta didik.
·
Menumbuhkan
keberanian dalam mengemukakan pendapat.
·
Pembuka jalan
bagi proses belajar lainnya.
c. Kekurangan Metode Tanya
Jawab :
·
Pada kelas
besar, pertanyaan yang diajukan tidak dapat disebarkan kepada seluruh siswa,
sehingga siswa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjawab maupun
bertanya.
·
Siswa yang
tidak aktif kurang memperhatikan bahkan tidak terlibat secara mental.
·
Menimbulkan
rasa gugup pada siswa yang tidak memiliki keberanian menjawab dan bertanya
(kemampuan lisan).
·
Dapat membuang
waktu bila siswa tidak responsive terhadap pertanyaan.
BAB III
PENUTUP
Dari hasil beberapa refresi dan penelitian yang
dilakukan, mengenai perbandingan metodologi ceramah dan diskusi dalam memahami
pelajaran aqidah akhlak maka dapat disimpulkan sebagi berikut:
1. Metode
yang sering digunakan dalam pengajaran aqidah akhlak umumnya adalah metode
ceramah dan metode diskusi. Meskipun penggunaan metode ceramah dan metode
diskusi tidak secara tuntas dapat mencapai tujuan yang diharapkan, namun kedua
metode tersebut cukup efektif untuk meningkatkan prestasi siswa, khususnya
dalam pengajaran aqidah akhlak.
2. Metode Pemberian Tugas memang tidak
terlalu sering digunakan, adapun pengembangan metode
ini dapat digunakan dalam pembelajaran Akidah Akhlak seperti mengenai
kisah-kisah para Nabi.
3. Metode Tanya Jawab adalah metode
penyajian pelajaran melalui interaksi dua arah. Di
dalam pembelajaran akidah akhlak metode ini termasuk efektif walaupun tidak
sering digunakan, dikatakan efektif agar siswa aktif dan berperan serta di
dalam proses belajar mengajar. Misalnya dalam pelajaran mengenai Kalimat
Tauhid, Bagaiman menerapakan kalimat tauhid itu dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh, Abu Bakar. 1959. Mutiara Akhlak. Jakarta: Bulan
Bintang.
A.S, Asmaran. 1992. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: Rajawali
Press.
Daradjat, Zakiyah. 1995. Metodi Khusus Pengajaran Agama Islam.Jakarta:
Bumi
Aksara.
Mahrus. 2009. Aqidah. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam
Departemen
Agama Republik Indonesia.
Sholahuddin,
Mahfuz, dkk. 1986. Metodologi Pendidikan Islam. Surabaya: PT.
Bina Ilmu.
Zuhairini.1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama.Surabaya:
Usaha Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar