MAKALAH ILMU KALAM
BAB
I
PENGERTIAN
FILSAFAT ISLAM
A.
Pengertian
Filsafat dan Objeknya
Akal merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang paling istimewa
bagi manusia. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap
segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia
bukan dibawa sejak lahir karena manusia ketika dilahirkan belum mengetahui
apa-apa.
Ada
dua bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bukan berdasarkan hasil usaha
aktif dari manusia dan pengetahuan yang berdasarkan hasil usaha aktif
manusia.
Filsafat adalah kata majemuk yang
berasal dari bahasa Yunani, yakni philosophia dan philosophos.
Philo berarti cinta (loving), sedangkan sophia atau shopos,
berarti pengetahuan atau kebijakan (wisdom). Jadi, filsafat secara sederhana
berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Pengertian cinta yang
dimaksudkan disini adalah ingin dan dengan rasa keinginan itulah ia berusaha
mencapai atau mendalami hal yang diinginkan. Demikian juga yang dimaksudkan
dengan pengetahuan, yaitu tahu dengan mendalam sampai keakar-akarnya atau
sampai ke dasar segala dasar.
Kemudian, orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia kedalam
Bahasa Arab menjadi falsafa. Hal ini sesuai dengan tabiat susunan
kata-kata Arab dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Dalam kamus Bahasa Indonesia
kata ini terpakai dengan sebutan filsafat.
Adapun objek dasar
filsafat terbagi menjadi tiga bahasan pokok :
1.
Al-wujud
atau Ontologi;
Ontologi mencakup
hakikat segala yang ada (al-manjudat). Dalam dunia filsafat “yang
mungkin ada” termasuk dalam pengertian “yang ada”.
Pada umumnya bahasan “yang ada” (al-manjudat) terbagi menjadi dua
bidang, yakni fisika dan metafisika.
2.
Al-ma’rifat
atau epistemologi
Epistemologi bersangkutan dengan hakikat pengetahuan dan cara bagaimana atau
dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh.
3.
Al-qayyim
atau aksiologi.
Aksiologi bersangkutan dengan hakikat
nilai. Dalam menentukan hakikat atau ukuran yang baik dan buruk dibahas dalam
filsafat etika atau akhlak.
B.
Pengertian
Filsafat Islam
Orang-orang
islam melakukan kegiatan mempelajari filsafat, namun mereka tidak akan mungkin
melahirkan filsafat sendiri. Alasan-alasan pandangan mereka ini dapat dirangkum
sebagai berikut :
1.
Adanya
kitab suci Al-qur’an yang menegasikan kebebasan atau kemerdekaan berfikir.
2.
Karakter
bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat.
3.
Bangsa
arab adalah res Semit (al-samy), termasuk ras rendah bila dibandingkan
dengan bahasa Yunani ras Aria (al-ary). Ras Semit mempunyai daya nalar
yang lemah dan tidak mampu berfilsafat, yang hanya dimiliki oleh ras Aria.
Dalam
buku Mulyadhi Kartanegara yang berjudul Gerbang Kearifan, beliau mendiskusikan beberapa pandangan sarjana
tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan
bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh
para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam.
Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat
Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan
dikembangkan oleh para filosof Muslim.
Ada lagi yang
mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan
bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa
Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan nama-nama
lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.
Adapun beliau
sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan
setidaknya 3 alasan :
1) Ketika
filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem
teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi
siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,sehingga tidak
ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai
dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang
bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat
Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya
dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak,
telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.
2) Sebagai
pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang kritis.
Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya,
maka tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun
Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak
segan-segan mengertik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan
1menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti
Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah, juga mengeriktik sistem
logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas pandangan
Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan Islam.
3) Adanya
perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara
Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah
mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para
filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.
b. Lingkup
Filsafat Islam
Berbeda dengan
lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan
para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika,
fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof
tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang
filosofis yang luas ini.
c. Pandangan
Filsafat yang Holistik
Satu hal lagi
yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya
yang bersifat integral-holistik.Integrasi ini, sebagaimana yang telah saya
jelaskan dalam karya saya yang lain Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi
Holistik, terjadi pada berbagai bidang, khususnya integrasi di bidang sumber
ilmu dan klasifikasi ilmu. Filsafat Islam mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan
hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik.
Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu
yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu antara
metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian
juga integrasi terjadi di bidang metodoogi dan penjelasan ilmiah. Karena itu
filsafat Islam tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah,
sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga
metode burhani, untuk meneliti entitasentitas yang bersifat abstrak, ‘irfani,
untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan (musyahadah) secara
langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan
terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti
al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui kebasahan
observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai
sumbersumber yang sah dan penting bagi ilmu.
2. Peran Filsafat Islam dalam Dunia Modern
a. Menjawab
Tantangan Kontemporer
Pada saat ini,
dalam pandangan Beliau (Mulyadhi Kartanegara), umat Islam telah dilanda
berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan
ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari
berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama
metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak
dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace
(w. 1827), kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi
hipotesa.Dan ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotetsa
tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk
kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan
alam, tetapi adalah hukukm alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan
sebagai pemelihara dan pengatur alam. Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan
tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewanhewan, karena menurut Darwin (w.
1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam sendiri,
yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection).
b. Filsafat
sebagai Pendukung Agama
Berbeda dengan
yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan bagi
agama, beliau (Mulyadhi Kartanegara) melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai
mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan
yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak
sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan sains dan
filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena menurut
hemat saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara
ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa
Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin
bahwa Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.
Selama ini
filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya, memang
betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam,
melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar
metafisiknya. Tetapi kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan
mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial
untuk menjadi mitra filsafat atau bahwan pendukung agama. Di sini filsafat bisa
bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan
serangan ilmiah-filosofis seperti yang saya deskrisikan di atas.
Serangan
terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argumen
adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari
al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dll., seperti yang telah saya jelaskan antara
lain dalam buku saya Menembus Batas Waktu. Serangan terhadap wahyu bisa dijawab
oleh berbagai teori pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim
dari al-Ghazali, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra
dll.
BAB
II
Filosof
Islam Dan Filsafat Nya
Filosof-filosof
Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa
yang dialami oleh filosof-filosof lain, dan pengaruh-pengaruh lingkungan dan
suasana terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya
tidaklah bisa dipungkuri bahwa dunia Islam telah berhasil membentuk suatu
filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam
sendiri.
1. AL-KINDI
Nama
lengkapnya Abu Yusuf, Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Al-Asha’ath bin
Kays Al-Kindi. Beliau biasa disebut Ya’kub, lahir pada tahun 185 H (801 M) di
Kufah. Keturunan dari suku Kays, dengan gelar Abu Yusuf (bapak dari anak yang bernama Yusuf) nama
orang tuanya Ishaq Ashshabbah, dan ayahnya menjabat gubernur di Kufah, pada
masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas.
Nama
Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu
Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah
selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi.
Sebagai orang
yang dilahirkan di kalangan para intelektual, maka pendiidkan yang pertama-tama
diterima adalah membaca Al-Qur’an, menulis, dan berhitung. Disamping itu ia
banyak mempelajari tentang sastra dan agama, juga menerjemahkan beberapa buku
Yunani di dalam bahasa Syiria kuno, dan bahasa Arab.
Al-Kindi
mengarang buku-buku yang menganut keterangan Ibnu Al-Nadim buku yang ditulisnya
berjumlah 241 dalam bidang filsafat, logika, arithmatika, astronomi,
kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya. Dari
karangan-karangannya, dapat kita ketahui bahwa Al-Kindi termasuk penganut
aliran Eklektisisme; dalam metafisika dan kosmologi mengambil pendapat Aristoteles,
dalam psikologi mengambil pendapat Plato, dalam hal etika mengambil pendapat
Socrates dan Plato.
Mengenai
filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini;
Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang
kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama
juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki
perbedaan.
Mengenai
hakikat Tuhan, Al-Kindi menegaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang hak (benar),
yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia selalu mustahil tidak ada, ia
selalu ada dan akan selalu ada. Jadi Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak
didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir wujudNya dan tidak wujud kecuali
denganNya.
Unsur-unsur
filsafat yang kita dapati pada pemikiran Al-Kindi ialah:
a.
Aliran
Pythagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat.
b.
Pikiran-pikiran
Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al-Kindi
tidaksependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
c.
Pikiran-pikiran
Plato dalam soal kejiwaan.
d.
Pikiran-pikiran
Plato dan Aristoteles bersama-sama dalam soal etika.
e.
Wahyu dan iman
(ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan
sifat-sifatNya.
f.
Aliran
Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam menakwilkan ayat-ayat
Qur’an.
Haruslah diakui
bahwa Al-Kindi tidak mempunyai sistem filsafat yang lengkap. Jasanya ialah
karena dia adalah orang yang pertama-tama membuka pintu filsafat bagi dunia
Arab dan diberinya corak Arab keislaman. Pendiri filsafat Islam yang sebenarnya
ialah Al-Farabi.
2. AL-FARABI
Ia adalah Abu
Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama
kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah
seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi
perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari
keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.
Sejak kecilnya,
Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam lapangan
bahasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya antara lain bahasa Iran, Turkistan, dan
Kurdistan. Nampaknya ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani, yaitu
bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.
Setelah besar,
Al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju kota Baghdad, pusat pemerintahan
dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk belajar antara lain pada Abu Bisyr bin
Mattius. Selama berada di Baghdad, ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu
logika.
Al-Farabi luas
pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada pada masanya dan mengarang
buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya, baik yang sampai kepada kita
maupun yang tidak, menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika,
kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqih, dan mantik.
Sebagian besar
karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap
filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika,
etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya,
namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.
Di antara
karangan-karangannya ialah:
Aghradlu ma
Ba’da at-Thabi’ah.
Al-Jam’u baina
Ra’yai al-Hakimain (Mempertemukan Pendapat Kedua Filosof; maksudnya Plato dan
Aristoteles).
Tahsil
as-Sa’adah (Mencari Kebahagiaan).
‘Uyun al-Masail
(Pokok-Pokok persoalan).
Ara-u Ahl-il
Madinah al-Fadhilah (Pikiran-Pikiran Penduduk Kota Utama Negeri Utama).
Ih-sha’u
al-Ulum (Statistik Ilmu).
Menurut Dr.
Ibrahim Madkour, filsafat Al-Farabi adalah filsafat yang bercorak
spiritual-idealis, sebab menurut Al-Farabi, dimana-mana ada roh. Tuhannya
adalah Roh dari segala Roh. Akal yang dikonsepsikannya yaitu ‘Uqul Mufariqah
(akal yang terlepas dari benda) merupakan makhluk rohani murni, sedang kepala
negeri- utamanya, menguasai badannya. Roh itu pula yang menggerakkan
benda-benda langit dan mengatur alam di bawah bulan.
Meskipun
Al-Farabi telah banyak mengambil dari Plato, Aristoteles dan Plotinus, namun ia
tetap memegangi kepribadian, sehingga pikiran-pikiranya tersebut merupakan
filsafat Islam yang berdiri sendiri, yang bukan filsafat stoa, atau Peripatetik
atau Neo Platonisme. Memeng bisa dikatakan adanya pengaruh aliran-aliran tersebut,
namun bahannya yang pokok adalah dari Islam sendiri.
3. IBNU SINA
Ibnu Sina
dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana Khilafah Abbasiyah mengalami
kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah
tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad
sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan
Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai
tahun 447 H.
Di antara
daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulah Samani di Bukhara, dan di
antara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada masanya, yaitu di tahun 340 H
(980 M), di suatu tempat yang bernama Afsyana, daerah Bukhara, Ibnu Sina
dilahirkan dan dibesarkan. Di Bukhara ia menghafal Qur’an dan belajar ilmu-ilmu
agama serta ilmu astronomi, sedangkan usianya baru sepuluh tahun. Kemudian ia
mempelajari
matematika, fisika, logika dan ilmu metafisika. Sesudah itu ia mempelajari ilmu
kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi.
Belum lagi usianya
melebihi enam-belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal
orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak
cukup dengan teori-teori kedokteran, taoi juga melakukan praktek dan mengobati
orang-orang sakit.
Sebenarnya
hidup Ibnu Sina tidak pernah mengalami ketenangan, dan usianya pun tidak
panjang. Meskipun banyak kesibukan-kesibukannya dalam urusan politik, sehingga
ia tidak banyak mempunyai kesempatan untuk mengarang, namun ia telah berhasil
meninggalkan berpuluh-puluh karangan.
Karangan-karangan
Ibnu Sina yang terkenal ialah:
Asy-Syifa. Buku
ini adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu Sina, dan
trediri dari enpat bagian, yaitu: logika, fisika, matematika, dan metafisika
(ketuhanan).
An-Najat. Buku
ini merupakan keringkasan buku as-Syifa, dan pernah diterbitkan bersama-sama
dengan buku al-Qanun dalam ilmu kedokteran pada tahun 1593 M di Roma dan pada
tahun 1331 M di Mesir.
Al-Isyarat
wat-Tanbihat. Buku ini adalah buku terakhir dan yang paling baik, dan pernah
diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan sebagiannya diterjemahkan ke dalam
bahasa Perancis.
Al-Hikmat
al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak dibicarakan orang, karena tidak jelasnya
maksud judul buku, dan naskah-naskahnya yang masih ada memuat bagian logika.
Al-Qanun, atau
Canon of Medicine, menurut penyebutan orang-orang Barat. Buku ini pernah
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standar untuk
universitas-universitas Eropa sampai akhir abad ketujuhbelas Masehi.
Ibnu Sina
memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana
yang dapat kita lihat dari buku-buku yang khusus untuk soal-soal kejiwaan atau
pun buku-buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.
Pengaruh Ibnu
Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia piker Arab
sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada
Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott.
Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat
jiwa dan wujudnya.
Hidup Ibnu Sina
penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang; penuh pula dengan kesenangan dan
kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia
tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia
meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.
4. AL-GHAZALI
Ia adalah Abu
Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, lahir tahun
450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Kata-kata al-Ghazali
kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan menduakalikan z,
kata-kata al-Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya tukang pemintal
benang, karena pekerjaan ayahnya ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali
dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahiran
al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai.
Al-Ghazali
pertama-tama belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan
akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun
478 H/1085 M. kemudian ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota Mu’askar,
dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia
tinggal di kota itu enam tahun lamanya.
Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Baghdad,
dan pekerjaannya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad,
selain mengajar, juga mengadakan
bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan Bathiniyah, Isma’iliyyah,
golongan filsafat dan lain-lain.
Pengaruh
al-Ghazali di kalangan kaum Muslimin besar sekali, sehingga menurut pandangan
orang-orang ahli ketimuran (Orientalis), agama Islam yang digambarkan oleh
kebanyakan kaum Muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.
Al-Ghazali
adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang
dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi
berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam
(Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi.
Sebagian besar dari buku-buku tersebut diatas dalam bahasa Arab dan yang lain
ditulisnya dalam bahasa Persia.
Karyanya yang
terbesar yaitu Ihya ‘Ulumuddin yang artinya “Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama”, dan
dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam,
Yerussalem, Hijjaz dan Tus, dan yang berisi tentang paduan yang indah antara
fiqih, tasawuf dan filsafat, bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin,
tetapi juga di kalangan dunia Barat dan luar Islam.
Bukunya yang
lain yaitu al-Munqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari Kesesatan), berisi sejarah
perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya yang terakhir terhadap
beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis
modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.
Pikiran-pikiran
al-Ghazali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh
kegoncangan batin, sehingga sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak
pemikirannya, seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan
terhadap aliran-aliran akidah pada masanya.
Namun demikian,
al-Ghazali telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh
orang-orang yang sebelumnya dan
mengembalikan kepada agama nulai-nilai yang telah hilang tidak menentu. Jalan
yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati dan dengan demikian ia telah
membuka pintu Islam seluas-luasnya untuk tasawuf.
Pengaruh
al-Ghazali besar sekali di kalangan kaum
Muslimin sendiri sampai sekarang ini, sebagaimana juga di kalangan
tokoh-tokoh pikir abad pertengahan bahkan juga sampai pada tokoh-tokoh pikir
abad modern.
5. IBNU BAJAH
Ia adalah Abu
Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu
Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajah dengan
“Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu
Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan nama Avicenna, Avicebron,
Abubacer, dan Averroes.
Ibnu Bajah
dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti
tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat
dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Serville, Granada, dan Fas;
menulis beberapa risalah tentang logika di kota Serville pada tahun 1118 M, dan
meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usianya belim lagi tua. Menurut satu riwayat, ia meninggal dunia
karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan
ketenarannya.
Buku-buku yang
ditinggalkannya ialah:
Beberapa
risalah dalam ilmu logika, dan sampai sekarang masih tersimpan di perpustakaan
Escurial (Spanyol).
Risalah tentang
jiwa.
Risalah
al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dan akal-faal.
Risalah
al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak-pertama bagi manusia dan tujuan yang
sebenarnya bagi wujud manusia dan alam.
Beberapa
risalah tentang ilmu falak dan ketabiban.
Risalah Tadbir
al-Mutawahhid.
Beberapa ulasan
terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, al-Farabi,
Porphyrus, dan sebagainya.
Menurut Carra
de Vaux, di perpustakaan Berlin ada 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajah.
Diantara karangan-karangannya itu yang paling penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid
yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan
masyarakat, yang disebutnya Mutawahhid, yang berarti “penyendiri”. Isi risalah
tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran
tentang usaha si penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan
menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamannya.
Ibnu Bajah
telah memberi corak baru terhadap filsafat Islam di negeri Islam barat dalam
teori ma’rifat (epistemology, pengetahuan), yang berbeda sama sekali dengan
corak yang telah diberikan oleh al-Ghazali di dunia timur Islam, setelah ia
dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof Islam.
6. IBNU THUFAIL
Ia adalah
Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, dilahirkan di Wadi Asy dekat
Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran,
kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersbut dan
berulangkali menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi
dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf al-Mansur, khalifah kedua daru daulah
Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh kedudukan yang tinggi dan dapat
mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana Khalifah itu, di antaranya
ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku karangan Aristoteles.
Buku-buku
biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut
beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan
sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd.
Akan tetapi karangan-karangan tersebut tidak sampai kepada kita, kecuali satu
saja, yaitu risalah Hay bin Yaqadhan, yang merupakan intisari pikiran-pikiran
filsafat Ibnu Thufail, dan yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Suatu
manuskrip di perpustakaan Escurrial yang berjudul Asrar al-Hikmat
ai-Masyriqiyyah (Rahasia-rahasia Filsafat Timur) tidak lain adalah bagian dari
risalah Hay bin Yaqadhan.
Ibnu Thufail
tergolong filosof dalam masa Skolastik Islam. Pemikiran kefilsafatannya cukup
luas, termasuk metafisika. Dalam pencapaian Ma’rifatullah, Ibnu Thufail
menempatkan sejajar antara akal dan syari’at. Pemikiran tersebut sebenarnya
merupakan upaya yang tidak pada tempatnya, sebab syari’at sumbernya adalah
wahyu (yakni : dari Tuhan), sedangkan akal merupakan aktifitas manusiawi. Akal
manusia sebenarnya hanyalah dampak mencari alasan rasional bagi syari’at
mengenai dalil-dalil adanya Tuhan.
7. IBNU RUSYD
Nama lengkapnya
Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H. Ia
berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal dengan keutamaan dan
mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya adalah seorang
hakim, dan kakeknya yang terkenal dengan sebutan “Ibnu Rusyd kakek” (al-Jadd) adalah
kepala hakim di Cordova.
Ibnu Rusyd
adalah seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat
Aristoteles. Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena
menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan
menelaah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan
dirinya.
Karangannya
meliputi berbagai ilmu, seperti: fiqih, ushul, bahasa, kedokteran, astronomi,
politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah
ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan,
atau ringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka
tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatiannya yang besar untuk
mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku lain yang telah
diulasnya ialah buku-buku karangan Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus,
Galinus, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Bajah.
Buku-bukunya
yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada empat, yaitu:
Bidayatul
Mujtahid, ilmu fiqih. Buku ini bernilai tinggi, karena berisi perbandingan
mazhabi (aliran-aliran) dalam fiqih dengan menyebutkan alasannya masing-masing.
Faslul-Maqal fi
ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-Ittisal (ilmu kalam). Buku ini
dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persesuaian antara filsafat dan syari’at,
dan sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1895 M oleh
Muler, orientalis asal Jerman.
Manahijul
Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah (ilmu kalam). Buku ini menguraikan tentang
pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahan-kelemahannya, dan sudah
pernah diterjemahkan ke dalam bahasa
Jerman, juga oleh Muler, pada tahun 1895 M.
Tahafut
at-Tahafut, suatu buku yang terkenal dalam lapangan filsafat dan ilmu kalam,
dan dimasukkan untuk membela filsafat dari serangan al-Ghazali dalam bukunya
Tahafut al-Falasifah. Buku Tahafut at-Tahafut berkali-kali diterjemahkan ke
dalam bahasa Jerman, dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh van den
Berg yang terbit pada tahun 1952 M.
Ibnu Rusyd
adalah tokoh pikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling
hebat pembelaannya terhadap akal dan filsafat, sehingga ia benar-benar menjadi
filosof-pikiran dikalangan kaum Muslimin.
Pada garis
besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan berusaha mengeluarkan
pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah kata-kata Aristoteles dan
ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan pikiran tersebut dan
melengkapkannya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana kemampuannya yang
tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan dalam mempertemukan antara agama
dengan filsafat nampak jelas kepada kita.
Ketika hendak
meninggal, beliau (Ibnu Rusyd) mengeluarkan kata-katanya yang terkenal:
“Akan mati
rohku karena matinya filsafat
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
Dunia Islam telah berhasil membentuk
suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat
Islam sendiri. Nama Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama
sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah,
yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai
kebudayaan yang tinggi.
Mengenai filsafat dan agama,
Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama.
Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu
yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu
mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin
Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan
pada tahun 257 H (870 M). Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri
dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius,
dalam bidang-bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak
tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas
Aristoteles.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Hanafi,
Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta : 1996
Sudarsono, Ilmu
Filsafat – Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta : 2001
Mulyadhi
Kartanegara, Masa Depan Filsafat Islam “antara cita dan fakta”..Sebuah Paper
Tidak ada komentar:
Posting Komentar